CONTOH — 4 dari 18 halaman laporan sekali-jadi (dokumen asli untuk pemesan, data publik OJK) Pesan laporan untuk BPR Anda — Rp 1,5 juta

Contoh dari laporan sungguhan, disusun pada posisi Juni 2026. Metodologi situs terus berkembang (riwayatnya di halaman metodologi), jadi skor dan sebagian rasio turunan kini dihitung dengan rumus yang lebih baru — angka rasio mentahnya tetap sesuai laporan publikasi. Seluruh datanya dari laporan publikasi OJK, tersedia untuk 1.300-an BPR. Empat belas halaman lainnya: skor IDEAL & lima dimensi, profil neraca, bedah tiap dimensi, diagnosa silang, simulasi skenario, rencana pemantauan, lampiran data tujuh triwulan, dan metodologi.

Halamannya dikecilkan agar utuh selayar — cubit untuk memperbesar dan membaca isinya.

Rhadzor · IDEAL BPRCONTOH · Sampel publik — bukan dokumen terkirim
IDEAL
Laporan Analisis Kinerja Bank

PT BPR Weleri Makmur

Jl. Majapahit Ruko Gayamsari No. 17–20 · Kota Semarang · Jawa Tengah
Posisi Laporan Publikasi Juni 2026 (Triwulan II)
Peer group: 9 BPR pembanding swasta sekelas aset dan wilayah · Tren 7 triwulan (Desember 2024 – Juni 2026)
Skor IDEAL 65,9 / 100 Peringkat 7 dari 10 dalam kelompok IK-4 · Rapuh
Disusun dari Laporan Publikasi Triwulanan yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan.
Dokumen analitis internal. Bukan opini audit dan bukan rekomendasi investasi.
RHADZOR.ID · IDEAL BPR
PT BPR Weleri Makmur · Posisi Juni 2026
Ringkasan Eksekutif

I. Ringkasan Eksekutif

Verdikt · Lima Temuan Utama

PT BPR Weleri Makmur menutup Triwulan II 2026 dengan skor IDEAL 65,9 dari 100, peringkat 7 dari 10 dalam kelompok pembanding, dan klasifikasi IK-4 Rapuh. Bank ini berdiri di atas dua fondasi yang sangat kuat, yaitu permodalan dengan KPMM 40,06% dan likuiditas dengan LDR 81,71%, namun fondasi itu sedang dipakai untuk menahan satu masalah yang belum berhenti membesar: NPL gross 26,86%, naik tanpa jeda pada enam triwulan berturut-turut dari 18,12% pada Desember 2024. Modal yang tebal memberi bank ini waktu, tetapi waktu itu terpakai sekitar 1,3 poin persentase NPL setiap triwulan.

Konsekuensinya sudah turun ke laporan laba rugi. Laba bersih semester pertama 2026 tercatat Rp 1,69 M, turun 64,8% dibanding Rp 4,82 M pada semester pertama 2025. ROA tinggal 0,69% dan ROE 3,20%, keduanya berada di kuartil terbawah peer group. Penyebabnya bukan biaya yang meledak, melainkan pendapatan yang menguap: makin banyak kredit yang tidak lagi menghasilkan bunga, sehingga NIM jatuh dari 8,56% pada Juni 2025 ke 5,34% pada Juni 2026.

Verdikt

Bank yang solvabel dengan mesin pendapatan yang sedang mengecil. Tidak ada indikasi tekanan solvabilitas maupun likuiditas dalam 12 bulan ke depan. Yang terancam adalah kemampuan menghasilkan laba: dengan kredit lancar menyusut dari 368,5 miliar menjadi 308,5 miliar dalam enam triwulan dan coverage CKPN hanya 26,90%, bank ini membiayai struktur biaya penuh dengan basis aset produktif yang terus mengecil. Perbaikan harus datang dari penyelesaian kredit bermasalah, bukan dari efisiensi biaya.

Lima Temuan Utama

  1. NPL gross naik enam triwulan beruntun, 18,12% menjadi 26,86%. Secara nominal, kredit bermasalah bertambah dari 81,5 miliar ke 113,3 miliar. Median peer group berada di 13,27%, artinya beban Weleri Makmur dua kali lipat kondisi kelompoknya.
  2. Cadangan hanya menutup 26,90% dari outstanding NPL. CKPN kredit Rp 30,5 M berhadapan dengan NPL Rp 113,3 M. Jika bank menaikkan coverage ke 70%, dibutuhkan tambahan pencadangan Rp 48,8 M atau sekitar 14,4 kali laba setahun penuh pada laju laba saat ini.
  3. Kredit lancar menyusut 16,3% dalam enam triwulan. Portofolio yang menghasilkan bunga turun dari 368,5 miliar ke 308,5 miliar, sementara total kredit hanya turun 6,3%. Neraca terlihat stabil justru karena kredit bermasalah tetap tercatat di dalamnya.
  4. NIM turun 3,22 poin persentase dalam setahun, dari 8,56% ke 5,34%. Biaya dana justru relatif stabil di 5,87%. Penurunan berasal dari sisi imbal hasil: pendapatan bunga terhadap kredit turun dari 19,31% ke 15,16%.
  5. Kredit kepada pihak terkait melonjak dari Rp 4,48 M menjadi Rp 19,36 M hanya dalam satu triwulan. Porsinya naik dari 1,09% ke 4,59% dari total kredit, delapan kali median peer group (0,59%). Pada triwulan yang sama total kredit hanya naik Rp 12,4 M, sehingga hampir seluruh pertumbuhan kredit berasal dari segmen ini.

Papan Angka Kunci · Juni 2025 dibanding Juni 2026

IndikatorJun-2025Jun-2026Perubahan Arah
NPL gross22,19%26,86% +4,67 poin Memburuk pada tiap triwulan sejak Juni 2025
Coverage CKPN / NPL24,78%26,90% +2,12 poin Naik, tetapi kalah cepat dari NPL
Kredit lancar (Rp M)337,9308,5 -29,4 Basis pendapatan menyusut
NIM8,56%5,34% -3,22 poin Tertekan oleh kredit tak berbunga
BOPO86,08%94,56% +8,48 poin Pendapatan turun lebih cepat dari biaya
Laba bersih semester I (Rp M)4,82 1,69 -64,8% Turun ke level terendah dalam rentang
KPMM36,57%40,06% +3,49 poin Bantalan modal tetap tebal
Tabungan (Rp M)82,3 98,0 +19,11% Satu-satunya pos pendanaan yang tumbuh
Yang sudah berjalan benar

Tiga hal patut dicatat sebagai kekuatan yang tidak boleh dikorbankan saat membenahi kredit. KPMM 40,06% adalah yang tertinggi di seluruh peer group dan memberi ruang pencadangan yang tidak dimiliki pesaing. Tabungan tumbuh 19,11% setahun terakhir, satu-satunya pos pendanaan yang bergerak naik dan sekaligus yang paling murah. LDR 81,71% berada di zona sehat dan menyisakan Rp 183,1 M penempatan pada bank lain yang bisa langsung dipakai begitu ada penyaluran kredit baru yang layak.

Rhadzor · IDEAL BPRLaporan IDEAL · PT BPR Weleri Makmur · Juni 2026Hal. 2
PT BPR Weleri Makmur · Posisi Juni 2026
Posisi vs Peer

X. Posisi terhadap Peer Group

10 BPR Swasta Sekelas Aset dan Wilayah · Posisi Juni 2026

Peer group disusun dari sepuluh BPR swasta dengan kelas aset dan wilayah operasi yang sebanding, mayoritas di Jawa Tengah, dengan rentang aset Rp 215 miliar sampai Rp 1,44 triliun. Kelompok ini dipilih agar perbandingannya adil: BPR milik pemerintah daerah dan BPR dengan model bisnis berbeda tidak dimasukkan.

BPRAset
Rp M
SkorNPL
gross
Cover
CKPN
BOPONIMROAKPMMLDRGrowth
kredit
Klas
Central Artha63991,76,02%55,58%80,31%11,93%3,51%25,54%94,8%4,3%IK-1
Restu Artha Abadi37987,56,21%29,89%69,38%12,08%6,12%82,43%138,0%4,8%IK-1
Nusamba Pecangaan Jepara21584,47,61%35,16%89,55%12,59%1,75%15,87%87,6%23,9%IK-3
Bina Sejahtera Insani1.44372,517,35%24,85%82,55%5,86%1,99%30,50%105,5%112,6%IK-4
Nusamba Cepiring32571,012,93%24,51%93,80%10,87%1,05%19,77%102,8%-8,1%IK-4
Buana Artha Lestari54270,513,61%6,87%87,12%3,79%1,47%17,72%92,2%4,1%IK-4
Weleri Makmur62265,926,86%26,90%94,56%5,34%0,69%40,06%81,7%-2,9%IK-4
Gunung Rizki Pusaka Utama1.13065,330,45%27,29%85,82%5,07%1,64%35,92%106,0%0,9%IK-4
Mandiri Artha Abadi51863,426,44%19,67%97,28%6,01%0,86%21,77%87,5%-4,1%IK-4
Arto Moro1.40151,69,55%1,07%93,41%4,22%0,71%14,46%153,4%0,2%IK-4

Hijau menandai posisi baik, kuning menandai zona menengah, merah menandai perlu perhatian. Baris berlatar emas adalah PT BPR Weleri Makmur.

Peringkat Skor IDEAL

Central Artha91,7NPL 6,0%Restu Artha Abadi87,5NPL 6,2%Nusamba Pecangaan Jepara84,4NPL 7,6%Bina Sejahtera Insani72,5NPL 17,4%Nusamba Cepiring71,0NPL 12,9%Buana Artha Lestari70,5NPL 13,6%Weleri Makmur65,9NPL 26,9%Gunung Rizki Pusaka Utama65,3NPL 30,4%Mandiri Artha Abadi63,4NPL 26,4%Arto Moro51,6NPL 9,6%

Siapa Benchmark, Siapa Senasib

Benchmark terbaik: Central Artha (skor 91,7). Aset 639 miliar, hampir identik dengan Weleri Makmur, tetapi NPL gross hanya 6,02% dan ROA 3,51%. Yang membedakan bukan skala, melainkan kualitas penyaluran. Imbal hasil kreditnya 23,96%, tertinggi di peer group, dengan biaya dana 7,08%. Bank ini menyalurkan lebih agresif, LDR 94,81%, dan tetap menjaga NPL di bawah ambang gerbang. Kombinasi itu yang memberi ROA lima kali lipat Weleri Makmur.

Senasib terdekat: Gunung Rizki Pusaka Utama (skor 65,3) dan Mandiri Artha Abadi (skor 63,4). Mandiri Artha Abadi mencatat NPL 26,44%, hampir sama dengan Weleri Makmur, dengan coverage yang lebih tipis yaitu 19,67% dan BOPO 97,28%. Gunung Rizki menghadapi NPL 30,45%, yang tertinggi di kelompok ini, tetapi masih membukukan ROA 1,64% karena skalanya lebih besar. Ketiganya berada di kelompok yang sama, dan yang membedakan Weleri Makmur adalah modalnya jauh lebih tebal, 40,06% berbanding 21,77% dan 35,92%.

Yang membedakan Weleri Makmur dari kelompoknya. Pada tiga indikator bank ini adalah yang terbaik atau nyaris terbaik di seluruh peer group: KPMM 40,06% tertinggi, modal disetor terhadap aset 11,26% tertinggi, dan ketergantungan pada pinjaman bank lain 0,83% praktis nol. Pada tiga indikator lain bank ini berada di dasar: ROA 0,69% peringkat sembilan, ROE 3,20% peringkat sepuluh, dan pertumbuhan kredit -2,89% peringkat sembilan. Profilnya jelas, yaitu bank yang sangat kuat secara neraca dan sangat lemah secara laba.

Konteks industri

Tujuh dari sepuluh BPR dalam kelompok ini terkena gerbang NPL, dengan enam di antaranya melewati 12%. Median NPL gross peer group berada di 13,27%, jauh di atas ambang sehat 5%. Tekanan kualitas aset ini bukan persoalan satu bank, melainkan kondisi segmen. Namun perlu ditegaskan bahwa posisi Weleri Makmur pada 26,86% tetap dua kali median kelompoknya, sehingga konteks industri tidak dapat dipakai sebagai penjelasan yang memadai.

Rhadzor · IDEAL BPRLaporan IDEAL · PT BPR Weleri Makmur · Juni 2026Hal. 11
PT BPR Weleri Makmur · Posisi Juni 2026
Rekomendasi

XIII. Rekomendasi Prioritas

Lima Prioritas · Terlacak ke Angka di Laporan Ini

Urutan prioritas disusun berdasarkan besarnya pengaruh terhadap skor komposit dan tingkat ketergantungan antar langkah. P1 dan P2 harus berjalan bersamaan karena menaikkan cadangan tanpa menyelesaikan kredit hanya menurunkan laba, sedangkan menyelesaikan kredit tanpa cadangan yang memadai membuat bank rentan pada pemburukan berikutnya.

P1

Bentuk satuan tugas penyelesaian kredit bermasalah dengan target nominal, bukan target rasio

TemuanNPL gross 26,86% pada Juni 2026, naik enam triwulan beruntun dari 18,12%. Outstanding NPL Rp 113,3 M dan kredit lancar menyusut dari 368,5 miliar ke 308,5 miliar.
LangkahBentuk satuan tugas terpisah dari unit bisnis, dengan target penyelesaian Rp 12 sampai Rp 15 miliar per tahun yang dipecah menjadi target triwulanan. Petakan seluruh outstanding NPL ke dalam tiga kelompok: layak restrukturisasi, siap eksekusi agunan, dan perlu hapus buku. Tetapkan penanggung jawab per debitur untuk 20 eksposur terbesar. Laporkan realisasi per debitur setiap bulan ke direksi.
Indikator pantauNPL gross turun minimal 1,5 poin persentase per semester. Outstanding NPL nominal turun, bukan hanya rasionya. Kredit lancar naik kembali di atas Rp 320 miliar dalam empat triwulan.
P2

Naikkan coverage CKPN secara bertahap menuju 50% dalam empat triwulan

TemuanCKPN Rp 30,5 M hanya menutup 26,90% dari outstanding NPL Rp 113,3 M. Beban CKPN semester I 2026 Rp 4,3 M, lebih rendah dari Rp 8,2 M pada semester I 2025 padahal NPL naik lebih cepat.
LangkahTetapkan jadwal pembentukan cadangan tambahan Rp 26,2 M yang dibagi rata ke empat triwulan, sekitar Rp 6,5 M per triwulan. Simulasi menunjukkan KPMM masih bertahan di 30,16% setelah pembentukan penuh, tetap tertinggi di peer group. Sampaikan jadwal ini ke dewan komisaris agar penurunan laba yang menyertainya dipahami sebagai keputusan yang direncanakan, bukan sebagai kinerja yang memburuk.
Indikator pantauCoverage CKPN naik minimal 5 poin persentase per triwulan menuju 50%. KPMM dijaga tidak turun di bawah 28%. Selisih NPL gross dan NPL neto melebar.
P3

Hentikan penambahan kredit pihak terkait dan siapkan dokumentasinya

TemuanKredit pihak terkait melonjak dari Rp 4,48 M pada Maret 2026 ke Rp 19,36 M pada Juni 2026, dari 1,09% menjadi 4,59% dari total kredit. Median peer group 0,59%. Seluruh pertumbuhan kredit triwulan itu berasal dari segmen ini.
LangkahTidak menambah fasilitas baru kepada pihak terkait sampai porsinya kembali di bawah 2% dari total kredit. Siapkan berkas terpisah untuk setiap fasilitas yang memuat analisis kredit, penilaian agunan terkini, riwayat pembayaran, dan kolektibilitas. Laporkan posisi ini sebagai agenda tetap rapat direksi dan komisaris setiap triwulan.
Indikator pantauRasio kredit pihak terkait terhadap total kredit turun ke bawah 2% dalam empat triwulan. Tidak ada fasilitas pihak terkait yang masuk kolektibilitas 3 sampai 5.
P4

Alihkan penempatan antarbank ke kredit lancar secara terukur

TemuanPenempatan pada bank lain Rp 183,1 M atau 29,5% dari aset, sementara LDR hanya 81,71% dibanding median peer 98,79%. Imbal hasil kredit 15,16% berbanding imbal hasil penempatan yang jauh lebih rendah.
LangkahTetapkan target penyaluran kredit baru Rp 40 miliar per tahun yang didanai dari pengurangan penempatan antarbank, dengan seleksi risiko yang lebih ketat daripada praktik sebelumnya. Fokuskan pada segmen yang sudah terbukti lancar dalam portofolio berjalan. Setiap Rp 10 miliar yang berpindah berpotensi menambah pendapatan bunga sekitar Rp 1 miliar per tahun.
Indikator pantauLDR naik bertahap ke kisaran 88% sampai 92% tanpa menaikkan NPL gross. Kredit lancar bertambah minimal Rp 20 miliar per semester. Pendapatan bunga terhadap kredit berhenti turun.
P5

Pertahankan momentum pertumbuhan tabungan sebagai program berkelanjutan

TemuanTabungan tumbuh 19,11% setahun terakhir menjadi Rp 98,0 M, sementara deposito turun 2,02%. Porsi tabungan dalam DPK naik ke 19,28%, masih di bawah Nusamba Cepiring 51,1% dan Restu Artha Abadi 53,3%.
LangkahJadikan pertumbuhan tabungan sebagai target formal unit bisnis dengan sasaran porsi 25% dari DPK dalam dua tahun. Jangan memangkas beban pemasaran yang saat ini 0,133% dari aset, karena inilah satu-satunya jalur perbaikan margin yang tidak bergantung pada penyelesaian NPL.
Indikator pantauPorsi tabungan dalam DPK naik minimal 1,5 poin persentase per semester. Biaya bunga DPK bertahan di bawah 5,9%. Total DPK tidak menyusut selama perpindahan komposisi berlangsung.
Rhadzor · IDEAL BPRLaporan IDEAL · PT BPR Weleri Makmur · Juni 2026Hal. 14
Struktur yang sama, untuk BPR mana pun — peer group Anda yang menentukan. Pesan sekarang →