Contoh dari laporan sungguhan, disusun pada posisi Juni 2026. Metodologi situs terus berkembang (riwayatnya di halaman metodologi), jadi skor dan sebagian rasio turunan kini dihitung dengan rumus yang lebih baru — angka rasio mentahnya tetap sesuai laporan publikasi. Seluruh datanya dari laporan publikasi OJK, tersedia untuk 1.300-an BPR. Empat belas halaman lainnya: skor IDEAL & lima dimensi, profil neraca, bedah tiap dimensi, diagnosa silang, simulasi skenario, rencana pemantauan, lampiran data tujuh triwulan, dan metodologi.
Halamannya dikecilkan agar utuh selayar — cubit untuk memperbesar dan membaca isinya.
PT BPR Weleri Makmur menutup Triwulan II 2026 dengan skor IDEAL 65,9 dari 100, peringkat 7 dari 10 dalam kelompok pembanding, dan klasifikasi IK-4 Rapuh. Bank ini berdiri di atas dua fondasi yang sangat kuat, yaitu permodalan dengan KPMM 40,06% dan likuiditas dengan LDR 81,71%, namun fondasi itu sedang dipakai untuk menahan satu masalah yang belum berhenti membesar: NPL gross 26,86%, naik tanpa jeda pada enam triwulan berturut-turut dari 18,12% pada Desember 2024. Modal yang tebal memberi bank ini waktu, tetapi waktu itu terpakai sekitar 1,3 poin persentase NPL setiap triwulan.
Konsekuensinya sudah turun ke laporan laba rugi. Laba bersih semester pertama 2026 tercatat Rp 1,69 M, turun 64,8% dibanding Rp 4,82 M pada semester pertama 2025. ROA tinggal 0,69% dan ROE 3,20%, keduanya berada di kuartil terbawah peer group. Penyebabnya bukan biaya yang meledak, melainkan pendapatan yang menguap: makin banyak kredit yang tidak lagi menghasilkan bunga, sehingga NIM jatuh dari 8,56% pada Juni 2025 ke 5,34% pada Juni 2026.
Bank yang solvabel dengan mesin pendapatan yang sedang mengecil. Tidak ada indikasi tekanan solvabilitas maupun likuiditas dalam 12 bulan ke depan. Yang terancam adalah kemampuan menghasilkan laba: dengan kredit lancar menyusut dari 368,5 miliar menjadi 308,5 miliar dalam enam triwulan dan coverage CKPN hanya 26,90%, bank ini membiayai struktur biaya penuh dengan basis aset produktif yang terus mengecil. Perbaikan harus datang dari penyelesaian kredit bermasalah, bukan dari efisiensi biaya.
| Indikator | Jun-2025 | Jun-2026 | Perubahan | Arah |
|---|---|---|---|---|
| NPL gross | 22,19% | 26,86% | +4,67 poin | Memburuk pada tiap triwulan sejak Juni 2025 |
| Coverage CKPN / NPL | 24,78% | 26,90% | +2,12 poin | Naik, tetapi kalah cepat dari NPL |
| Kredit lancar (Rp M) | 337,9 | 308,5 | -29,4 | Basis pendapatan menyusut |
| NIM | 8,56% | 5,34% | -3,22 poin | Tertekan oleh kredit tak berbunga |
| BOPO | 86,08% | 94,56% | +8,48 poin | Pendapatan turun lebih cepat dari biaya |
| Laba bersih semester I (Rp M) | 4,82 | 1,69 | -64,8% | Turun ke level terendah dalam rentang |
| KPMM | 36,57% | 40,06% | +3,49 poin | Bantalan modal tetap tebal |
| Tabungan (Rp M) | 82,3 | 98,0 | +19,11% | Satu-satunya pos pendanaan yang tumbuh |
Tiga hal patut dicatat sebagai kekuatan yang tidak boleh dikorbankan saat membenahi kredit. KPMM 40,06% adalah yang tertinggi di seluruh peer group dan memberi ruang pencadangan yang tidak dimiliki pesaing. Tabungan tumbuh 19,11% setahun terakhir, satu-satunya pos pendanaan yang bergerak naik dan sekaligus yang paling murah. LDR 81,71% berada di zona sehat dan menyisakan Rp 183,1 M penempatan pada bank lain yang bisa langsung dipakai begitu ada penyaluran kredit baru yang layak.
Peer group disusun dari sepuluh BPR swasta dengan kelas aset dan wilayah operasi yang sebanding, mayoritas di Jawa Tengah, dengan rentang aset Rp 215 miliar sampai Rp 1,44 triliun. Kelompok ini dipilih agar perbandingannya adil: BPR milik pemerintah daerah dan BPR dengan model bisnis berbeda tidak dimasukkan.
| BPR | Aset Rp M | Skor | NPL gross | Cover CKPN |
BOPO | NIM | ROA | KPMM | LDR | Growth kredit | Klas |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Central Artha | 639 | 91,7 | 6,02% | 55,58% | 80,31% | 11,93% | 3,51% | 25,54% | 94,8% | 4,3% | IK-1 |
| Restu Artha Abadi | 379 | 87,5 | 6,21% | 29,89% | 69,38% | 12,08% | 6,12% | 82,43% | 138,0% | 4,8% | IK-1 |
| Nusamba Pecangaan Jepara | 215 | 84,4 | 7,61% | 35,16% | 89,55% | 12,59% | 1,75% | 15,87% | 87,6% | 23,9% | IK-3 |
| Bina Sejahtera Insani | 1.443 | 72,5 | 17,35% | 24,85% | 82,55% | 5,86% | 1,99% | 30,50% | 105,5% | 112,6% | IK-4 |
| Nusamba Cepiring | 325 | 71,0 | 12,93% | 24,51% | 93,80% | 10,87% | 1,05% | 19,77% | 102,8% | -8,1% | IK-4 |
| Buana Artha Lestari | 542 | 70,5 | 13,61% | 6,87% | 87,12% | 3,79% | 1,47% | 17,72% | 92,2% | 4,1% | IK-4 |
| Weleri Makmur | 622 | 65,9 | 26,86% | 26,90% | 94,56% | 5,34% | 0,69% | 40,06% | 81,7% | -2,9% | IK-4 |
| Gunung Rizki Pusaka Utama | 1.130 | 65,3 | 30,45% | 27,29% | 85,82% | 5,07% | 1,64% | 35,92% | 106,0% | 0,9% | IK-4 |
| Mandiri Artha Abadi | 518 | 63,4 | 26,44% | 19,67% | 97,28% | 6,01% | 0,86% | 21,77% | 87,5% | -4,1% | IK-4 |
| Arto Moro | 1.401 | 51,6 | 9,55% | 1,07% | 93,41% | 4,22% | 0,71% | 14,46% | 153,4% | 0,2% | IK-4 |
Hijau menandai posisi baik, kuning menandai zona menengah, merah menandai perlu perhatian. Baris berlatar emas adalah PT BPR Weleri Makmur.
Benchmark terbaik: Central Artha (skor 91,7). Aset 639 miliar, hampir identik dengan Weleri Makmur, tetapi NPL gross hanya 6,02% dan ROA 3,51%. Yang membedakan bukan skala, melainkan kualitas penyaluran. Imbal hasil kreditnya 23,96%, tertinggi di peer group, dengan biaya dana 7,08%. Bank ini menyalurkan lebih agresif, LDR 94,81%, dan tetap menjaga NPL di bawah ambang gerbang. Kombinasi itu yang memberi ROA lima kali lipat Weleri Makmur.
Senasib terdekat: Gunung Rizki Pusaka Utama (skor 65,3) dan Mandiri Artha Abadi (skor 63,4). Mandiri Artha Abadi mencatat NPL 26,44%, hampir sama dengan Weleri Makmur, dengan coverage yang lebih tipis yaitu 19,67% dan BOPO 97,28%. Gunung Rizki menghadapi NPL 30,45%, yang tertinggi di kelompok ini, tetapi masih membukukan ROA 1,64% karena skalanya lebih besar. Ketiganya berada di kelompok yang sama, dan yang membedakan Weleri Makmur adalah modalnya jauh lebih tebal, 40,06% berbanding 21,77% dan 35,92%.
Yang membedakan Weleri Makmur dari kelompoknya. Pada tiga indikator bank ini adalah yang terbaik atau nyaris terbaik di seluruh peer group: KPMM 40,06% tertinggi, modal disetor terhadap aset 11,26% tertinggi, dan ketergantungan pada pinjaman bank lain 0,83% praktis nol. Pada tiga indikator lain bank ini berada di dasar: ROA 0,69% peringkat sembilan, ROE 3,20% peringkat sepuluh, dan pertumbuhan kredit -2,89% peringkat sembilan. Profilnya jelas, yaitu bank yang sangat kuat secara neraca dan sangat lemah secara laba.
Tujuh dari sepuluh BPR dalam kelompok ini terkena gerbang NPL, dengan enam di antaranya melewati 12%. Median NPL gross peer group berada di 13,27%, jauh di atas ambang sehat 5%. Tekanan kualitas aset ini bukan persoalan satu bank, melainkan kondisi segmen. Namun perlu ditegaskan bahwa posisi Weleri Makmur pada 26,86% tetap dua kali median kelompoknya, sehingga konteks industri tidak dapat dipakai sebagai penjelasan yang memadai.
Urutan prioritas disusun berdasarkan besarnya pengaruh terhadap skor komposit dan tingkat ketergantungan antar langkah. P1 dan P2 harus berjalan bersamaan karena menaikkan cadangan tanpa menyelesaikan kredit hanya menurunkan laba, sedangkan menyelesaikan kredit tanpa cadangan yang memadai membuat bank rentan pada pemburukan berikutnya.