Kabar IDEAL

BPR Citra Bersada Abadi Ditutup. Angkanya Sudah Terbuka Dua Puluh Bulan Sebelumnya

Kalau sebuah BPR ditutup, beritanya biasanya sebatas pengumuman: nomor keputusannya, tanggalnya, imbauan supaya nasabah tenang. Kami mencoba melangkah satu langkah lagi. Laporan keuangan bank itu kami buka, tujuh triwulan ke belakang, untuk melihat sejak kapan sebetulnya angkanya sudah tidak wajar.

Terbit · diperbarui · 10 menit baca · Pencabutan Izin

Yang terjadi di Bekasi

Pada 19 Agustus 2026, OJK mencabut izin usaha PT BPR Citra Bersada Abadi. Kantornya di kompleks pertokoan Pasar Pagi Bintara, Bekasi Barat. Sejak keputusan itu keluar, kegiatannya berhenti dan sisa hak serta kewajibannya diurus tim likuidasi LPS.

Penutupan ini tidak datang tiba-tiba. Setahun sebelumnya, 6 Agustus 2025, OJK sudah menaruh bank ini dalam status penyehatan. Alasan yang disebut waktu itu: modalnya sudah minus 2,98 persen, dan uang tunai yang siap dipakai tinggal 3,59 persen, di bawah batas 5 persen. Pengurus dan pemegang sahamnya diberi waktu memperbaiki keadaan. Setahun lewat, perbaikannya tidak datang. Pada 5 Agustus 2026 statusnya naik ke tahap resolusi, LPS memutuskan melikuidasi pada 13 Agustus, dan dua pekan kemudian izinnya dicabut.

Simpanan nasabah dijamin LPS sepanjang memenuhi syarat penjaminan.

Sampai di sini isinya sama dengan yang sudah Anda baca di banyak tempat kemarin. Yang jarang ditanyakan orang justru yang sesudahnya: sebelum semua ini terjadi, apa sebenarnya yang sudah kelihatan, dan sejak kapan?

Sedikit soal siapa yang menulis ini

Ini tulisan pertama di Kabar IDEAL, jadi wajar kalau Anda belum tahu kami siapa.

Setiap triwulan, seluruh BPR di Indonesia wajib menerbitkan laporan keuangannya lewat OJK. Neraca, laba rugi, kualitas kredit, semuanya. Laporan itu terbuka untuk umum di cfs.ojk.go.id dan bisa diunduh siapa saja, gratis. Masalahnya cuma satu: bentuknya ribuan berkas terpisah, satu bank satu periode, dan tidak ada yang bisa dibandingkan begitu saja.

Kami mengumpulkan laporan itu untuk 1.863 BPR, tujuh triwulan berturut-turut, lalu merapikannya jadi satu tabel yang bisa dibandingkan antar-bank. Dari situ lahir skor dan predikat, plus sepuluh saringan kehati-hatian yang kami sebut gerbang. Namanya IDEAL. Perinciannya ada di halaman metodologi, dan matriksnya bisa dibuka tanpa mendaftar.

Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: kami bukan OJK, dan angka kami bukan Tingkat Kesehatan resmi. Kami cuma membaca laporan yang bank terbitkan sendiri, dengan aturan yang kami umumkan terbuka supaya siapa pun bisa mengulangi hitungannya.

Membaca laporannya dari belakang

BPR Citra Bersada Abadi ada di panel kami sejak awal, sama seperti BPR lain. Berikut angkanya, tujuh triwulan berturut-turut, apa adanya.

PeriodeNPLCARBOPOModal intiUang tunaiAYDA
Des 202431,02%14,91%179%Rp 1,72 M19,09%39,68%
Mar 202531,02%14,91%179%Rp 1,52 M19,09%41,22%
Jun 202520,65%0,05%184%Rp 1,13 M16,39%40,63%
Sep 202542,83%−12,29%199%−Rp 0,26 M5,38%52,74%
Des 202551,21%−3,77%161%Rp 0,07 M4,38%57,40%
Mar 202663,88%−41,17%299%−Rp 0,39 M3,21%61,65%
Jun 202681,57%−87,07%300%−Rp 1,75 M1,63%47,92%

Kalau istilah-istilah itu belum akrab, mari pelan-pelan. Ambil saja baris paling atas, Desember 2024, lalu baca kolom demi kolom.

NPL 31 persen. Dari setiap seratus rupiah yang bank ini pinjamkan, tiga puluh satu rupiah tidak kembali sesuai jadwal. Sebagai pembanding, BPR pada umumnya duduk di bawah tujuh setengah persen, dan itu pun sudah dianggap batas atas.

BOPO 179 persen. Untuk mendapat seratus rupiah pendapatan, bank ini mengeluarkan seratus tujuh puluh sembilan rupiah. Setiap rupiah yang masuk membawa kerugian bersamanya. Bank ini tidak sedang menipis untungnya. Setiap hari ia beroperasi, lubangnya bertambah besar.

AYDA 39,68 persen. AYDA adalah agunan yang diambil alih: rumah, tanah, ruko, kendaraan yang tadinya jadi jaminan kredit, lalu disita karena kreditnya macet. Hampir empat puluh persen aset bank ini sudah berbentuk barang sitaan, bukan uang dan bukan kredit yang menghasilkan. Barang sitaan tidak membayar bunga, dan menjualnya di pasar bekas jarang menghasilkan sebanyak nilai bukunya.

CAR 14,91 persen. Ini bantalan modal pemilik, penyangga kalau kredit macet harus dihapus. Angka ini masih di atas batas minimum delapan persen. Inilah satu-satunya kolom yang masih terlihat baik pada Desember 2024, dan bertahannya tidak lama.

Uang tunai 19,09 persen. Bagian dana yang siap dibayarkan kalau penabung datang menarik uangnya hari itu juga.

Sekarang lihat baris paling bawah, Juni 2026. NPL naik ke 81,57 persen, artinya empat dari lima rupiah yang dipinjamkan tidak kembali. BOPO 300 persen. CAR minus 87 persen, bukan lagi bantalan yang menipis melainkan lubang. Uang tunai tinggal 1,63 persen.

Bank ini rugi terus tanpa putus sepanjang periode itu: Rp 1,20 miliar sepanjang 2024, Rp 1,13 miliar sepanjang 2025, dan Rp 1,23 miliar hanya pada paruh pertama 2026. Kerugian setengah tahun terakhir sudah melampaui kerugian setahun penuh sebelumnya.

Di tengah jalan, modal pemiliknya habis. Ekuitasnya masih positif Rp 1,74 miliar pada Desember 2024, lalu minus Rp 1,54 miliar pada Juni 2026.

Sepuluh gerbang: apa saja itu

Catatan redaksi, 2 September 2026

Saat artikel ini terbit, saringan yang kami pakai berjumlah dua belas gerbang, dan ambang kredit pihak terkait terhadap modal masih ditulis 10 persen. Sejak pembaruan metodologi berikutnya gerbangnya tiga belas dan ambang itu 12 persen. Riwayat lengkap perubahannya ada di halaman metodologi.

Tadi kami sebut sepuluh saringan kehati-hatian tanpa menjelaskan isinya. Sekarang giliran itu.

Skor komposit punya satu kelemahan yang sudah lama diketahui: ia menjumlahkan. Bank yang permodalannya jeblok tapi labanya besar bisa keluar dengan angka sedang-sedang saja, dan angka sedang-sedang saja terbaca seolah tidak ada apa-apa. Padahal permodalan yang jeblok tidak bisa ditebus oleh laba di kolom sebelah. Sebagian hal memang tidak boleh saling menutupi.

Gerbang dipasang untuk itu. Ia tidak ikut dijumlahkan dan tidak punya bobot. Ia cuma bertanya ya atau tidak, sepuluh kali, dan satu jawaban buruk sudah cukup untuk mencoret sebuah bank dari daftar "IDEAL Terbaik", sebagus apa pun sisanya.

Sepuluhnya terbagi dua kelompok. Lima yang pertama menanyakan apakah bank ini berisiko gagal: kredit macet di atas 7,5 persen, permodalan di bawah batas minimum 8 persen, permodalan yang pernah jebol dalam lima triwulan terakhir meski sekarang terlihat pulih, agunan sitaan yang menumpuk sampai 12 persen aset atau lebih, dan modal yang tidak sanggup menyerap kredit macetnya sendiri kalau macet itu dihapus hari ini.

Lima sisanya menanyakan apakah bank ini dikelola dengan baik — sebab tidak-gagal belum berarti sehat: beban operasional melebihi pendapatan, bank yang merugi, pendanaan yang rapuh karena kredit dibiayai pinjaman bank lain, kredit yang menumpuk ke pihak terkait sendiri, dan cadangan kerugian yang tipis padahal kreditnya sudah banyak yang macet.

Ambang tiap gerbang dan alasan angkanya dipilih ada di bagian gerbang kehati-hatian di halaman metodologi. Semuanya dikalibrasi ke BPR yang benar-benar dicabut izinnya pada 2024, lalu diuji ulang ke belakang.

Kami menerapkan sepuluh saringan itu ke setiap laporan triwulanan BPR Citra Bersada Abadi. Inilah kapan masing-masing pertama kali jebol:

Pertama jebolGerbang
Des 2024Kredit macet di atas 7,5%
Des 2024Agunan diambil alih 12% atau lebih dari aset
Des 2024Beban operasional melebihi pendapatan
Des 2024Bank merugi
Des 2024Modal inti di bawah Rp 6 miliar
Jun 2025Modal di bawah batas minimum 8%
Jun 2025Kredit ke pihak terkait 10% atau lebih dari modal inti
Sep 2025Cadangan kerugian tidak cukup
Des 2025Modal tidak sanggup menyerap kredit macet

Lima gerbang sudah jebol di laporan Desember 2024. Izinnya dicabut dua puluh bulan sesudah itu.

Ini bukan klaim bahwa kami tahu lebih dulu

Kami tidak menerbitkan peringatan apa pun soal bank ini pada Desember 2024, dan tidak akan berpura-pura begitu. Penandaan gerbang di produk kami hanya berjalan untuk periode terbaru, sebab status "Terbaik" memang soal keadaan sekarang, bukan soal masa lalu.

Di sini kami menjalankan aturan yang sama ke laporan-laporan lama. Aturannya sudah kami umumkan sejak dulu, angkanya milik bank itu sendiri, dan hitungannya bisa diulang siapa pun dengan berkas yang sama.

Jadi yang ditunjukkan tulisan ini bukan bahwa kami tahu lebih dulu. Yang ditunjukkan adalah bahwa datanya sudah cukup untuk tahu lebih dulu, dan datanya sudah terbuka sejak awal.

Lalu uang siapa yang tersisa di sana

CAR minus 87 persen memang angka yang mencolok, tapi datangnya terlambat. Waktu rasio permodalan sudah sampai ke situ, yang dicatatnya cuma sesuatu yang sudah selesai terjadi.

Ada dua baris lain yang lebih perlu dipasangkan. Sepanjang tujuh triwulan itu, modal pemegang saham bergerak dari positif Rp 1,74 miliar ke minus Rp 1,54 miliar. Pada rentang yang sama, deposito nasabah hanya turun dari Rp 9,95 miliar ke Rp 8,34 miliar.

Kalau keduanya disandingkan, artinya begini: pada Juni 2026, deposito saja sudah lebih besar daripada seluruh aset bank. Rp 8,34 miliar simpanan berjangka berdiri di atas Rp 7,76 miliar aset, dan hampir separuh aset itu sendiri berupa barang sitaan.

Uang pemilik habis lebih dari setahun sebelum izinnya dicabut. Yang masih tertinggal di sana sesudahnya adalah uang penyimpan.

Bukan cuma satu bank

Di wilayah kerja Kantor Regional 2 OJK, yang mencakup Jawa Barat dan sekitarnya, panel kami memuat 198 BPR pada Juni 2026. Dari jumlah itu, 22 bank gagal di lima gerbang atau lebih. Lima punya modal inti negatif, tiga punya CAR negatif, dan dua belas punya kredit macet di atas lima puluh persen.

Angka itu bisa dibaca dua arah. Keadaan seperti Citra Bersada Abadi memang tidak umum, tempatnya di ujung sebaran. Tapi bukan cuma bank itu yang ada di sana.

Kenapa kami tidak menyebut nama bank yang lain

Kami tahu bank mana saja yang ada di balik angka-angka itu, dan kami tidak akan menyebutnya di sini.

Gerbang jebol bukan ramalan kegagalan. Sebagian bank di sana sedang menjalankan rencana penyehatan, sebagian sedang dalam proses merger, sebagian lagi baru saja menyerap kerugian besar sekali jalan supaya neracanya bersih dan justru sedang membaik.

Menyebut namanya sebaris dengan bank yang izinnya baru dicabut kemarin sama saja dengan menuduh. Tuduhan seperti itu bisa memicu penarikan dana beramai-ramai, dan penarikan dana beramai-ramai sanggup mematikan bank yang sebetulnya masih bisa ditolong. Kami tidak mau ikut mengerjakan itu.

Angkanya tetap terbuka di matriks, lengkap, untuk dibaca sebagai data oleh orang yang paham cara membacanya.

Apa yang tidak bisa kami klaim

Ada beberapa hal yang harus ikut kami sebut, kalau tulisan ini mau dipercaya.

Tapi ada satu hal yang tidak perlu dikasih catatan apa pun: semua angka itu memang sudah terbuka sejak awal. Tidak ada yang perlu dibocorkan lebih dulu supaya orang bisa membacanya.

Kalau Anda pengurus BPR

Gerbang mana yang sedang jebol di laporan terakhir bank Anda bisa dilihat langsung di matriksnya, berikut angkanya. Yang paling sering luput dari perhatian biasanya bukan permodalan, sebab permodalan justru yang jebol paling belakangan. Yang jebol lebih dulu, dan lebih sunyi, adalah cadangan kerugian yang kurang, agunan sitaan yang menumpuk, dan antrean kredit kurang lancar yang belum tercatat sebagai macet.

Kalau ada angka kami yang tidak cocok dengan laporan publikasi bank Anda, jalur koreksi dan hak jawabnya ada di halaman metodologi. Kami periksa silang ke berkas sumbernya, dan kalau memang salah, kami perbaiki.

IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id). Ia bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.

© IDEAL — Analisis Laporan Keuangan BPR · Semua kabar